Mengikuti semangat blog ini, saya lebih membahas salah kaprahnya. Salah eja dalam konteks penulisan gaul merupakan hal yang wajar. Bagaimanapun, kecintaan pada penggunaan bahasa adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, saat salah eja tersebut dibawa ke konteks profesional (penulisan, pendidikan, jurnalisme, dll), yang terjadi adalah penularan virus salah kaprah.
Jangan salah. Sumber virus ini bisa jadi adalah acuan utama Anda selama ini.
Sumber Virus Itu Bernama: Sekolah
Pengalaman belajar di sekolah sering kali dijadikan acuan dasar kesalahkaprahan. Sebagai contoh, seorang novelis (tidak perlu saya sebut namanya) menerbitkan karya fiksi pertamanya yang langsung menjadi bestseller. Di dalamnya, ia menuliskan dialog seperti berikut:
Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum”!.
Mengagumkan memang. Tanda petik ganda yang salah dikombinasikan dengan titik yang redundan. Lebih hebat lagi, sang penulis sempat berkata dalam suatu diskusi bahwa itulah cara yang ia pelajari di sekolah. Beberapa kali, saya menjumpai para penggemarnya menulis komentar di media daring (online) bahwa mereka juga begitu.
Padahal sudah rahasia umum bahwa apa yang diajarkan di sekolah bukanlah pedoman mati. Ngotot bahwa suatu praktik benar karena “dulu di sekolah begitu” sama saja seperti yakin akan kebenaran sesuatu karena “itulah yang dikatakan orangtua saya!”
Mari lihat sumber yang jelas saja. Berdasarkan EYD yang didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat terbitan Gramedia Pustaka Utama, penulisan dialog yang benar adalah:
Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum!”
Tanda petik ganda selalu mengurung dialog. Panduan (sedikit) lebih lengkap bisa dibaca di sini. http://bertanyaataumati.blogspot.com/2005/06/penulisan-kreatif-1-kreatif-beraturan.html (Catatan: tautan itu menuju blog saya, jadi ini promosi tulisan sendiri tanpa malu-malu.)
Ejaan juga tak lepas dari salah kaprah ini. Cobalah tes sederhana berikut:
- Napas atau nafas?
- Apotek atau apotik?
- Praktik atau praktek?
- Kreativitas atau kreatifitas?
- Salat, solat, atau shalat?
- Wudu, wudhu, atau wudlu?
- Jumat atau Jum’at?
- Silakan atau silahkan?
Jika sekali saja dari daftar di atas Anda tidak memilih yang paling kiri, Anda telah terpengaruh referensi yang keliru. Oh, tentunya masih banyak contoh. Coba saja kunjungi Kateglo (http://bahtera.org/kateglo/) dan lihat bagian Salah Eja. Tekan F5 untuk memunculkan salah eja lainnya.
Kembali, poin terpenting di sini adalah salah kaprah akan acuan yang resmi. Bukan masalah kepatuhan pada ejaan. Anda boleh saja merasa, “Ah, lebih enak solat dong. Lebih sesuai dengan pengucapannya! Jadi itu yang akan saya tulis!” Silakan. Asalkan tidak beralasan, “Dulu di sekolah begitu. Jadi pasti benar!”
Kalau ya, tolong tinggalkan nama dan alamat. Saya perlu Anda sebagai bukti nyata hipotesis bahwa hanya ada dua tipe pelaku salah kaprah: pertama, orang-orang yang mengaku malas bertanya. Kedua? Yang tidak mengaku.
____________
Pertanyaan Bonus:
1) Manakah kata sifat yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bergerak: bergeming atau tidak bergeming?
2) Manakah yang menunjukkan bahwa seseorang tidak peduli: acuh atau tidak acuh?
[Ed.: Artikel ini ditulis oleh guest blogger @ismanhs.]
Mengikuti semangat blog ini, saya lebih membahas salah kaprahnya. Salah eja dalam konteks penulisan gaul merupakan hal yang wajar. Bagaimanapun, kecintaan pada penggunaan bahasa adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, saat salah eja tersebut dibawa ke konteks profesional (penulisan, pendidikan, jurnalisme, dll), yang terjadi adalah penularan virus salah kaprah.
Jangan salah. Sumber virus ini bisa jadi adalah acuan utama Anda selama ini.
Sumber Virus Itu Bernama: Sekolah
Pengalaman belajar di sekolah sering kali dijadikan acuan dasar kesalahkaprahan. Sebagai contoh, seorang novelis (tidak perlu saya sebut namanya) menerbitkan karya fiksi pertamanya yang langsung menjadi bestseller. Di dalamnya, ia menuliskan dialog seperti berikut:
Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum”!.
Mengagumkan memang. Tanda petik ganda yang salah dikombinasikan dengan titik yang redundan. Lebih hebat lagi, sang penulis sempat berkata dalam suatu diskusi bahwa itulah cara yang ia pelajari di sekolah. Beberapa kali, saya menjumpai para penggemarnya menulis komentar di media daring (online) bahwa mereka juga begitu.
Padahal sudah rahasia umum bahwa apa yang diajarkan di sekolah bukanlah pedoman mati. Ngotot bahwa suatu praktik benar karena “dulu di sekolah begitu” sama saja seperti yakin akan kebenaran sesuatu karena “itulah yang dikatakan orangtua saya!”
Mari lihat sumber yang jelas saja. Berdasarkan EYD yang didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat terbitan Gramedia Pustaka Utama, penulisan dialog yang benar adalah:
Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum!”
Tanda petik ganda selalu mengurung dialog. Panduan (sedikit) lebih lengkap. (Catatan: tautan itu menuju blog saya, jadi ini promosi tulisan sendiri tanpa malu-malu.)
Ejaan juga tak lepas dari salah kaprah ini. Cobalah tes sederhana berikut:
- Napas atau nafas?
- Apotek atau apotik?
- Praktik atau praktek?
- Kreativitas atau kreatifitas?
- Salat, solat, atau shalat?
- Wudu, wudhu, atau wudlu?
- Jumat atau Jum’at?
- Silakan atau silahkan?
Jika sekali saja dari daftar di atas Anda tidak memilih yang paling kiri, Anda telah terpengaruh referensi yang keliru. Oh, tentunya masih banyak contoh. Coba saja kunjungi Kateglo dan lihat bagian Salah Eja. Tekan F5 untuk memunculkan salah eja lainnya.
Kembali, poin terpenting di sini adalah salah kaprah akan acuan yang resmi. Bukan masalah kepatuhan pada ejaan. Anda boleh saja merasa, “Ah, lebih enak solat dong. Lebih sesuai dengan pengucapannya! Jadi itu yang akan saya tulis!” Silakan. Asalkan tidak beralasan, “Dulu di sekolah begitu. Jadi pasti benar!”
Kalau ya, tolong tinggalkan nama dan alamat. Saya perlu Anda sebagai bukti nyata hipotesis bahwa hanya ada dua tipe pelaku salah kaprah: pertama, orang-orang yang mengaku malas bertanya. Kedua? Yang tidak mengaku.
Pertanyaan Bonus:
- Manakah kata sifat yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bergerak: bergeming atau tidak bergeming?
- Manakah yang menunjukkan bahwa seseorang tidak peduli: acuh atau tidak acuh?