Pertama denger kata unduh dan unggah, yang digunakan sebagai pengganti kata download dan upload, pada awalnya terasa aneh. Karena belum biasa dan karena kita mungkin belum tahu asal mula kata-kata tersebut. Sekarang kedua kata tersebut sudah makin sering digunakan, jadi sudah makin berkurang rasa canggungnya. Tinggal memahami asal mula kata-kata tersebut supaya bikin kita jadi makin nggak canggung lagi dalam menggunakannya.
Bermula dari tweet @mialegria yang melihat/mendengar reporter di salah satu acara TV menggunakan kata punggah, saya jadi penasaran dan cari tahu. Kalau kata unduh sih kayaknya jelas dan belum ada perdebatan apa2. Kata unduh ini serapan dari bahasa Jawa yang lebih umum digunakan dalam konteks mengambil buah dari pohon. Karena aksinya adalah menurunkan dari atas, maka masuk akal jika kata unduh dipinjam sebagai pengganti kata download yang mempunyai arti kurang lebih mengambil sesuatu dari tempat yang jauh ke tempat yang lebih dekat (disimpan di sisi pihak pengambil).
Saya baru ngeh kalau kata unggah ini diambil dari bahasa Jawa juga yang artinya naik. Pertamanya mikir dulu, akhirnya teringat kata munggah (seperti munggah nang loteng, naik ke loteng), dan dari situ padanan dinaikkan dan menaikkan dalam bahasa Jawa menggunakan kata dasar yang sama, jadinya seperti diunggahno nang nduwur (dinaikkan ke atas) dan munggahno barange nang nduwur (menaikkan barangnya ke atas).
Nah karena grammar bahasa Jawa agak lain dengan bahasa Indonesia, jadi ada sedikit kebingungan kata dasarnya sebetulnya apakah unggah, punggah atau munggah. Menurut saya kata dasarnya adalah unggah, bukan punggah. Saya sependapat dengan Pak Setyadi Setyapranata di bawah ini (disampaikan kepada Ivan Lanin melalui email pribadi dan dipost di sini dengan ijin):
Sebenarnya derivasi yg benar adalah “memunggah”, tapi mungkin orang berpikir bentuk ini “terlalu Jawa”, maka diciptakan kata “punggah” yg kedengaran “lebih Indonesia”. Banyak kata2 Indonesia yg dijawakan mengubah “P” menjadi “M+”. Secara ”analogi terbalik” orang mengira bhw kata Jawa yg diawali dg “m” gampang ”diindonesiakan menjadi “p”, maka munggah menjadi punggah. Contoh P menjadi M+ :
- paku => memaku ==> MAku
- payung => memayungi ==> MAyungi
- pikul => memikul ==> Mikul
- pungut => memungkut ==> Mungut
- petik => memetik ==> MEtik
- pojok => memojok ==> Mojok
- program => memrogram ==> Mrogram
Seperti Anda lihat deret kata kiri itu Indonesia, sedangkan deret paling kanan = Jawa yg kemudian menjadi kata Indonesia tidak baku. Maaf itu cuma pikiran sekilas saya, mungkin agak ngawur.
…
Sedikit tambahan yg mungkin dpt dianggap “ralat”. ”Punggah” sebenarnya ada dlm bhs Jawa, tapi yg digunakan selalu derivasinya. Kata dipunggah memang grammatical, tapi tidak pernah dipakai. Yg biasa dipakai hanya “dipunggahi”, implikasinya barang yg dinaikkan tidak cuma satu, tapi sejumlah barang. ”Barang2e wis dipunggahi = Apakah barang2nya sudah “di-naik2kan”?” Saya pikir2 untuk padanan “uploaded”, “diunggah” lebih tepat drpd “dipunggah” kalau kita berkeyakinan bhw kata dasarnya “unggah” bukan “punggah”. Jadi untuk “to upload” yg lebih tepat “memunggah”, bukan “mempunggah”. Iya kan?
(Kutipan di atas diformat ulang supaya lebih enak dibaca.)
FYI, Kamus Badudu-Zain dan KBBI memuat lema “punggah” yang berarti membongkar muatan kapal. Tidak disebutkan ini berasal dari bahasa Jawa.
Tapi kalo dipikir2 kok kurang nyambung kalo membongkar yah, mungkin memuat barang ke kapal kali.
sy masih ga ngerti juga.. hhee