
Photo by kamugendut.com.
An artist* who is going to perform in a show said:
Rehearsal. So that people’s money’s worth it.
What does “it” refer to in the sentence above? The show? Jadi, uangnya sebanding dengan pertunjukannya?
Something like this probably makes more sense:
So that the show will be worth it.
“It” refers to the money that people pay for tickets. If “it” is replaced with “the money”, then it would probably makes it even clearer. Pertunjukannya sebanding dengan uang yang sudah dibayar. Lebih natural.
So the general structure is, more or less, A is worth B, where B, in general, is initially perceived to be of lower value than A.
[*It's not important who the artist is, that's not the point. I'm not nitpicking him personally.]
I saw funny signs in Emporium Pluit’s parking lot saying “Do Not Entry”.
It’s either “Do Not Enter” or “No Entry”. Pick one, not both.
Enter is a verb, entry is a noun.
Seperti bahasa turunan Latin lainnya, Italian juga mengenal gender, dan gender ini adalah unsur yang penting dalam berbahasa Itali. Kadang gua sering denger orang ngomong “Bravo, Caroline!” atau “Bravo, Stephanie!” (ganti namanya sama nama cewek yang lain kalo gak suka Caroline or Stephanie). Gua jadi inget guru Italian gua pernah bilang kalo “Bravo!” itu diucapin buat cowok, sedangkan kalo buat cewek mesti pake “Brava!”
Jadi seharusnya “Brava, Carolina!” atau “Brava, Stefania!” (well, namanya gak harus diganti ke Italian juga sih, hehehe…)
Kalo mau tau perbedaan artinya, bukalah kamus yah. Kali ini gua cuma mau ngomongin perbedaan pronunciationnya aja.
Supaya gak bingung, pake “replay” sebagai patokan. Kata dasarnya adalah “play” dan kita (biasanya) tidak ada masalah dengan pronunciationnya “play”. Hint: it rhymes with “gay”. Jadi tinggal ditambah “re-” aja di depannya. Gampang kan? Jadi bacanya (kalo ditulis pake Bahasa Indonesia) jadi “ri-plei”, jangan sampe dibaca “ri-plai”.
Kalo udah tau cara mengucapkan “replay”, maka yang “reply” jadi lebih gampang. Bacanya “ri-plai”, bukan “ri-plei”.
… Begitu seruan “Piss!” itu berbunyi kalo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Padahal yang dimaksud adalah “Peace!”
Mungkin seruan “piss!” ini sering diucapkan oleh orang yang sama dengan yang sering mengucapkan “dung” untuk “dong”, dan menyingkat “ass.” untuk “assalamualaikum”. Klop dah! Kencing, tai, dan pantat.
Mudah2an ntar nama anaknya gak punya arti jelek dalam bahasa lain.
Most likely yg sering dimaksud adalah “Thank God!”, bukan “Thanks, God.”
Seruan “Thank God!” bukan ditujukan kepada Tuhan. Nadanya adalah setengah mengajak dan setengah menyatakan. Mirip “God be praised!” atau “Terpujilah Tuhan!” (yang dua terakhir ini tidak banyak unsur mengajaknya sih, tapi lebih ke pernyataan atau ungkapan perasaan syukur).
Sedangkan ucapan “Thanks, God.” adalah ucapan yang ditujukan langsung kepada Tuhan, misalnya ketika kita sedang berdoa (berdoa = berbicara langsung dengan Tuhan, kan?).
(Thanks to ndari for the suggestion.)
Updated: tulisan bahwa Thank God! ditujukan kepada orang lain diralat, yg dimaksud sebetulnya adalah bahwa seruan itu bukan ditujukan ke Tuhan.
Kata “koneksitas” lumayan sering saya dengar, contoh terakhirnya ada di artikel Kompas ini.
Sepertinya kata “koneksitas” ini adalah made-up word. Orang kita kan paling pintar berasumsi dan mengarang2 sendiri. Hehehe.
Kata yang pasti ada itu adalah koneksi dan konektivitas. Keduanya sama2 noun (kata benda), tapi rupanya ada yg ngerasa kalo kadar kekatabendaan dari kata koneksi masih kurang, jadi ditambah akhiran “-itas” lagi biar makin mantep. Atau penulisnya bingung antara “koneksi” dan “konektivitas”, jadi digabung aja biar adil.
Kedua kata tersebut punya arti sedikit berbeda walaupun sama2 kata benda. Dalam kasus artikel Kompas di atas, kata yang seharusnya dipake adalah “koneksi”. Artinya kurang lebih sepadan dengan “hubungan”, sama dengan bahasa Inggrisnya, yaitu “connection”. Sedangkan kata “konektivitas” punya arti yang sama dengan “connectivity”, yaitu berkaitan dengan keterhubungan atau status koneksi.
Jenis kata apa yang bisa ditambah akhiran -ed? Hanya kata kerja (verb) aja kan?
Coba deh buka dictionary, cari “worth” trus liat fungsi katanya apa. Saya berani jamin pasti bukan verb.
[Update: Ternyata ada ding "worth" yang verb, TAPI jamanzaman sekarang sudah tidak digunakan lagi (it's archaic), dan artinya pun beda dengan "worth" yang kita sering gunakan/dengar sekarang.]
Yang kita denger orang bule ngomong itu adalah “worth it”, bukan “worthed”!