Akhirnya ada juga yang ngoreksi gua, walaupun gak kontak gua secara langsung, hehehe. Dan memang betul, gua yg salah. Dan sekarang udah gua benerin.
Gua seneng banget kalo dikoreksi, artinya I’m learning new things. Or, actually in this case, I’m re-learning something that I already knew, but it didn’t stick to me because I thought it was inconsistent. I like consistency. It makes it easier to remember things. Tapi kalo gak bisa konsisten, minimal harus ada penjelasannya supaya bisa masuk akal dan bisa diingat.
Penjelasan atas ketidakkonsistenan kata terjemahan kreatif dan kreativitas itu begini: harusnya supaya konsisten, kalo creative diterjemahkan menjadi kreatif, harusnya kan creativity jadi kreatifitas. Tapi ternyata gua baru tau kalo penerjemahan itu ada pengaruhnya dari Dutch, bukan cuma English. Jadi kreatif itu lebih kena pengaruh Dutch, sedangkan kreativitas dari English.
“I really enjoy Sukabumi’s style porridge.”
It should be “Sukabumi-style” in that sentence, because “Sukabumi-style” is an adjective that describes the porridge (which is the object). Yes, there’s a hyphen between Sukabumi and style when used together as an adjective.
“Style” is neither the subject nor the object in the above sentence.
“My style of music is modern jazz.” Style is the subject.
“I hate Sukmawati’s style.” Style is the object.
Then one can use the possessive form.
It’s redundant. ”Every” is always followed by a singular, never plural.
It’s either “every Friday” or “on Fridays”. Pick one, not both. (“On every Fridays” is even worse.)
Yang betul adalah negosiasi.
Hari Kamis malam nonton berita di Metro TV denger reporternya ngomong “negoisasi” sampe dua, tiga kali. Sampe saya mikir, “it sounds about right, but there’s something weird.” Ternyata memang salah, makanya aneh. Saya bandingkan dengan bahasa Inggrisnya baru jelas.
Rasanya kesalahan ini disebabkan kemiripan akhiran “-isasi” dengan “-siasi”, lalu ditambah dengan kebiasaan menyingkat negosiasi menjadi hanya “nego” saja dalam bahasa sehari-hari. Akhiran yang umum kan “-isasi”, jadi harusnya “nego-isasi” kan?
Supaya ingat — kalo masih bingung — bandingkan dengan bahasa Inggrisnya, tapi yang bentuk verbnya, yaitu “negotiate” (as in “I don’t negotiate with terrorists.”) Kata bendanya jadi “negotiation”, bukan “negoisation” (or “negoization” if you’re American).
The usage of hyphen after “re” (which means once more here) used to confuse me. Is it “redo” or “re-do”? “re-iterate” or “reiterate”? “re-enact” or “reenact”?
I found this gem in the New Oxford American Dictionary (used by the Dictionary.app in my Mac):
USAGE
In modern English, the tendency is for words formed with prefixes
such as re- to be unhyphenated: reacquaint, reconsider, reshape. For
the sake of clarity, however, hyphenation is sometimes favored when
the the root word begins with a vowel: re-erect, for instance, may be
preferred as a less awkward spelling than reerect. A hyphen is often
used when the word formed with the prefix would be identical in form
with, but different in meaning and pronunciation from, an already
existing word: re-cover (meaning ‘cover again,’ as in: we decided to
re-cover the dining-room chairs), as opposed to recover (meaning ‘get
better in health’).
In English there is no such word as “plagiat”, it’s probably originated from the Dutch word “plagiaat” which means “plagiarism” in English.
So, please don’t write “plagiatisme”, because it’s not even a word. Not in English, and not in Indonesian.
If you’re referring to the act, it’s “plagiarism” in English and “plagiarisme” (or “plagiat”) in Indonesian. If you’re referring to the person committing the act, it’s “plagiarist” in English and “plagiaris” in Indonesian.
Ini mungkin bukan hal baru, tapi salah kaprah yang umum. Saya pernah menjadi korbannya juga sampai sekitar tahun 2000 saya penasaran dan tanya ke teman sekelas saya yang dari Nepal (still closely related to India).
Cara membaca “Bajaj” yang benar adalah huruf “j” terakhir tetap dibaca “j”, bukan “i” dan bukan “y”. Jadi kedengarannya seperti “Bajatch”, bukan “Bajai”.
Mungkin anda bisa tanya ke kenalan Anda yang dari India untuk mengkonfirmasi juga.
Iya dong!
Saya bukannya against penggunaan slang atau bahasa percakapan. That’s how I talk too in daily conversations.
Cuma penggunaan yg terlalu dibuat2 itu nyebelin banget. Apalagi kalo malah jadi aneh. Udah gitu punya arti yang tidak mengenakkan pula.
Contoh:
- “dong” jadi “dung”, padahal pengucapannya tidak ada suara “u”-nya sama sekali. And “dung” means “shit” in English.
- “assalamualaikum” disingkat jadi “ass”, padahal “ass” artinya “pantat” (well, sebetulnya “donkey” sih, cuma pengertian “pantat” ini lebih populer).
Please, don’t embarrass yourself. Gak usah sok2an being different deh if you don’t know dung… err… I mean shit.
Kenapa kalo aslinya di Medan trus buka cabang di Jakarta nulisnya “Toko Anu Cabang Medan”? Bukankah seharusnya “Toko Anu Cabang Dari Medan”? atau “Toko Anu Cabang Jakarta Dari Medan”? Cabangnya kan cabang Jakarta.
Posted in Indonesia
|
Tagged indonesian
|
I’m not sure if there are so many of the so-called “editors” who don’t pay attention to details, or if this is a common misspelling because the meaning of the word has an association with “numbers”.
The correct spelling is remuneration, not renumeration.
The following is from a Kompas article today:
